Makalah Bahasa Indonesia Peran Bahasa Indonesia dalam Pendidikan Karakter Disusun oleh : Nurhafidah 20200113058 PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN 2013/2014 KATA PENGANTAR Assalamualaikum. Wr. Wb Puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala curahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis mampu menyelasaikan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing untuk membuat sebuah makalah dengan judul “Peran Bahasa Indonesia dalam Pendidikan Karakter “. Shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikut beliau sampai akhir zaman. Makalah yang di sajikan sedapat mungkin penulis hadirkan dalam bentuk yang mudah dimengerti. Namun demikian,penulis menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan penyampaian materi di dalam makalah ini. Karenanya penulis menerima kritik dan saran dari berbagai pihak terutama dari Bapak selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Indonesia demi kesempurnaan isi dari makalah kami dan menjadi pelajaran dikemudian hari. SAMATA , 6 Januari 2014 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................................................................................................1 KATA PENGANTAR..................................................................................................2 DAFTAR ISI................................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG.............................................................................................4 B. RUMUSAN MASALAH........................................................................................6 C.TUJUAN PENULISAN...........................................................................................6 BAB II PEMBAHASAN 1.Kaitan Bahasa Indonesia dalam Pendidikan Karakter..............................................7 2.Pentingnya Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Kehidupan Bermasyarakat........9 3.Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia Dalam Dunia Pendidikan.....................11 4. Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Bahasa..................................................12 BAB III PENUTUP i.Kesimpulan...............................................................................................................18 ii.Saran........................................................................................................................19 Daftar Pustaka............................................................................................................20 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan karakter bisa dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya keluarga, teman bergaul, lingkungan, bahasa dan banyak lagi lainnya. Salah satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah bahasa. Dalam berkomunikasi bahasa merupakan suatu keharusan dan modal yang mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari situasi formal maupun non formal. Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter. Seseorang mulai mengenal bahasa sejak di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan masyarakat. Ini semua yang disebut lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam pendidikan anak, karena proses pendidikan selalu berlangsung dalam lingkungan tertentu yang berhubungan dengan ruang dan waktu, karena hal tersebut lingkungan pendidikan harus diciptakan efektif dan semenarik mungkin terlebih mampu memberikan kontribusi lebih terhadap siswa , lalu bagaimana proses pendidikan yang berlangsung diluar sekolah, tentu saja besar pengaruhnya, lingkungan masyarakat terutama, selain di keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian seseorang sesuai keberadaannya, lingkungan masyarakat juga mampu menyediakan pendidikan yang berfungsi sebagai tambahan atau supplement. Namun pendidikan yang ada di lingkungan kita belum mampu memberikan nilai lebih sehingga mampu membuat seseorang menjadi mudah menghadapi masa depannya dengan baik. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan salah satu untuk mendapatkan pendidikan dengan nilai nilai mulia, berakhlak, kreatif dan memiliki karakter sesuai budaya bangsa dapat diperoleh melalui penggunaan bahasa yang baik. Seperti yang ditekankan pada pernyataan diatas, bahasa ternyata memiliki peranan dalam pengelolahan dan menciptakan generasi penerus yang memiliki nilai lebih. Dengan alasan itulah perlunya menganalisa lebih jauh bagaimana peran bahasa dalam pendidikan karakter. B.Rumusan Masalah Penulis mencoba menganalisis permasalahan tentang pengaruh bahasa terhadap pendidikan karakter antara lain yaitu; 1. Bagaimana kaitan bahasa indonesia dalam pendidikan karakter? 2.Bagaimana penggunaan bahasa indonesia dalam kehidupan bermasyarakat? 3.Bagaimana kedudukan dan fungsi bahasa indonesia dalam dunia pendidikan? 4. Bagaimana penanaman pendidikan karakter melalui bahasa? C.Tujuan Penulisan 1.Mengetahui kaitan bahasa indonesia dalam pendidikan karakter. 2.Mengetahui penggunaan bahasa indonesia dalam kehidupan bermasyarakat. 3.Mengetahui kedudukan dan fungsi bahasa indonesia dalam dunia pendidikan 4.Mengetahui penanaman pendidikan karakter melalui bahasa. BAB II PEMBAHASAN 1. Kaitan Bahasa Indonesia dalam Pendidikan Karakter Bahasa adalah budaya ,ini yang selama ini menjadi sorotan masyarakat bahasa merupakan ciri dari budaya suatu daerah atau personal yang ada dalam diri seseorang. Berbahasa dengan baik , baik pula kepribadian dan pendidikan sesorang. Lalu bagaimana jika budaya salah satu masyarakat menjadi suatu hal yang sulit diterima masyarakat, bisa jadi karena salah satu faktor yaitu bahasa yang kurang tepat, dan itu bisa saja terjadi pada anak didik kita, jika tidak ditanamkan dari awal pentingnya ketepatan bahasa maka akan besar pengaruhnya terhadap budaya mereka dan pendidikannya kedepan. Pendidikan sebagai tumpuhan pembentukan mental anak, haruslah dirancang sesuai kebutuhan kejiwaannya. Penanaman nilai dalam suatu pendidikan harus diterapakan, Pentingnya pendidikan karakter yang memasukkan unsur nilai penting seperti budi pekerti, pengetahuan, tindakan, dan kesemua itu dilakukan dengan tingkat kesadaran yang tinggi. Pada anak usia dini dianggap sebagai suatu hal penting. Penanaman sejak dini memberikan dampak besar bagi anak kedepannya, dengan harapan mental dan sikap anak cukup baik dalam menghadapai tantangan hidup. Bahasa menunjukkan cerminan pribadi seseorang. Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat diidentifikasi dari perkataan yang ia ucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, menghujat, memaki, memfitnah, mendiskreditkan, memprovokasi, mengejek, atau melecehkan, akan mencitrakan pribadi yang tak berbudi. Tepatlah bunyi peribahasa, "bahasa menunjukkan bangsa". Bagaimanakah sebenarnya tingkat peradaban dan jati diri bangsa tersebut? Apakah ia termasuk bangsa yang ramah, bersahabat, santun, damai, dan menyenangkan? Ataukah sebaliknya, ia termasuk bangsa yang senang menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, suka menyakiti, bersikap arogan, dan suka menang sendiri. Bahasa memang memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu suatu kebijakan yang berimplikasi pada pembinaan dan pembelajaran di lembaga pendidikan. Salah satu bentuk pembinaan yang dianggap paling strategis adalah pembelajaran bahasa Indonesia, karena kedudukan bahasa indonesia begitu penting begitu pun dengan fungsinya di dalam perhubungan pada tingkat nasional dalam kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah , bahasa indonesia digunakan dalam hubungan antarbadan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. 2.Pentingnya Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Bermasyarakat Manusia merupakan makhluk sosial. Makhluk yang tidak dapat hidup sendiri atau individu, manusia sangat membutuhkan manusia lain dalam menjalankan aktivitas, salah satu contoh penggunaan bahasa yaitu komunikasi dengan orang lain. Bahasa adalah, suatu sistem yang sifatnya berbunyi dan kita ucapkan melalui mulut kita sebagai alat berkomunikasi dengan masyarakat satu dan yang lainnya, fungsi dari bahasa sendiri pun salah satunya adalah, sebagai alat untuk menjelaskan sesuatu dengan menggunakan kata – kata kepada orang yang sedang kita ajak bicara. Ada juga fungsi bahasa itu sebagai alat untuk saling bekerjasama dengan sesama dan sebagai alat indentifikasi diri. Bahasa itu sangat penting untuk berinteraksi sosial, jadi maupun di negara Indonesia ini mempunyai berbagai macam bahasa tetap saja bahasa yang wajib di gunakan dengan baik dan benar adalah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar, bahasa bukan sekedar alat komunikasi, bahasa itu bersistem. Oleh karena itu, berbahasa bukan sekedar berkomunikasi, berbahasa perlu menaati kaidah atau aturan bahasa yang berlaku. Ungkapan “Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.” Kita tentu sudah sering mendengar dan membaca ungkapan tersebut. Permasalahannya adalah pengertian apa yang terbentuk dalam benak kita ketika mendengar ungkapan tersebut? Apakah sebenarnya ungkapan itu? Apakah yang dijadikan alat ukur (kriteria) bahasa yang baik? Apa pula alat ukur bahasa yang benar? Bahasa yang Baik Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa. Hal itu berarti bahwa kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita. Kita harus memperhatikan kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita. Berdasarkan uraian tersebut maka tujuan pembelajaran bahasa indonesia adalah memberi bekal pengetahuan agar dapat memahami bahasa indonesia dari segi bentuk ,makna,fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif dalam berbagai konteks,sehingga dapat meningkatkan kemampuan intelektual,kematangan emosional dan sosialnya . Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara kita berbahasa kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu tidak dapat disamakan. Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai jembatan, misalnya, dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang dewasa. Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa tentu jauh berbeda. Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yakni pengirim pesan, isi pesan, media penyampaian pesan, dan penerima pesan. Mengirim pesan adalah orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu pendengar atau pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika pengirim pesan menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media lisan. Jika ia menggunakan surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi pesan adalah gagasan yang ingin disampaikannya kepada penerima pesan. 3.Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Dunia Pendidikan Bahasa indonesia selain menunjukkan budaya tetapi juga kecerdasan personal seseorang (intelegensi linguistic). Bahasa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting bagi bangsa indonesia . Manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antarsesamanya sejak berabad-abad silam. Bahasa indonesia hadir sejalan dengan sejarah sosial komunitas-komunitas masyarakat atau bangsa. Pemahaman bahasa indonesia sebagai fungsi sosial menjadi hal pokok masyarakat untuk mengadakan interaksi sosial dengan sesamanya. Salah satunya menunjukkan cara yang bisa dikatagorikan sebagai lingkungan pendidikan yaiu masyarakat. Didalam lingkungan daerah yang terisolir maupun daerah yang jauh dari pusat kota, pendidikan di luar sekolah tentu saja yang berada dalam masyarakat sangat dibutuhkan, karena bagi daerah seperti ini lingkungan pendidikan yang menyediakan ilmu pengetahuan, keterampilan, atau performans yang berfungsi dapat menggantikan pendidikan dasar utama. Pada ketetapan MPR nomor IV/MPR/1988 tentang garis garis besar haluan Negara pada bab IV yaitu pola umum pelita ke lima bagian pendidikan berbunyi sebagai berikut: “Pendidikan merupakan proses budaya, untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia” pendidikan berlangsung seumur hidup dan dapat dilaksanakan didalam Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. 4.Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Bahasa Seiring perkembangan zaman yang terus berubah, memaksa pendidikan yang dinilai mempunyai peran besar harus pandai berinovasi, Hamidjojo mengemukakan hal – hal yang memaksa adanya inovasi pendidikan antara lain: 1. Besarnya eksploasi pendidikan 2. Melonjaknya aspirasi dikalangan masyarakat luas, menambah makin berat dan besarnya keperluan penduduk yang lebih baik 3. Kurangnya sumber 4. Kelemahan sistem 5. Belum mekarnya alat organisasi efektif Oleh sebab perihal tersebut, adanya inovasi dalam perbaikan pendidikan di negara kita antara lain dengan adanya pendidikan karakter, Koesuma dalam artikelnya menyatakan tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontigen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter seperti inilah, kualitas seseorang secara pribadi mampu diukur. Pendidikan berbasis karakter merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan di dunia pendidikan, besar pengaruh penanaman karakter pada anak dianggap sebagai hal pokok. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter,yaitu: (1) Keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. (2) Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. (3) Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. (4) keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan format seorang pribadi dalam segala tindakannya. Pendapat Foerster ini semakin mendukung program pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang memberdayakan anak dalam pengertian kecerdasan dan keterampilan melainkan program pendidikan juga menyadarkan tentang pentingnya menjaga moralitas dan peningkatan kemampuan pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan. Apabila segala fenomena tentang pentingnya pendidikan tidak terealisasi dengan baik, maka keberhasilan pemerhati pendidikan karakter akan mengalami kegagalan. Dampak yang dinilai sangat mempengaruhi pendidikan anak adalah Lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dan pemberian pendidikan akan tersampaikan dengan baik jika penggunaan bahasa diberikan dengan tepat. Bahasa yang sopan,baik dan tidak mampu membuat anak merasa tertekan. Bahasa dapat pula berperan sebagai alat integrasi sosial sekaligus alat adaptasi sosial, hal ini mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa yang majemuk. Kemajemukan ini membutuhkan satu alat sebagai pemersatu keberseragaman tersebut. Di sinilah fungsi bahasa indonesia sangat diperlukan sebagai alat integrasi sosial. Bahasa disebut sebagai alat adaptasi sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama, dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Proses adaptasi ini akan berjalan baik apabila terdapat sebuah alat yang membuat satu sama lainnya mengerti, alat tersebut disebut bahasa. Dari uraian ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa bahasa indonesia merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat/bangsa . Kartomiharjo (1982:1) menguraikan bahwa salah satu butir sumpah pemuda adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan,bahasa Indonesia. Dengan demikian bahasa dapat mengikat anggota-anggota masyarakat pemakai bahasa menjadi masyarakat yang kuat, bersatu, dan maju. Lalu bagaimana bahasa mulai bisa dikatakan berpengaruh terhadap proses pemberian pendidikan karakter, ada lima slogan yang dikumandangkan oleh para pengamat AM/Moulton, 1961, dalam “ International Congress of Linguistic”, yakni: (a) Bahasa adalah Lisan, bukan tulisan (b) Bahasa adalah seperangkat kebiasaan (c) Yang diajarkan adalah bahasa, bukan tentang bahasa (d) Bahasa adalah yang diajarkan oleh si penutur asli (e) Bahasa adalah berbeda-beda Dari slogan tersebut ada satu hal yang dianggap berpengaruh penting terhadap pendidikan karakter yaitu bahasa adalah seperangkat kebiasaan, kebiasaan bisa dikatakan adat, dalam situs Wikipedia menyebutkan bahwa adat ialah adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang. Stevick dalam Sudana menyatakan maksud dari pengajaran bahasa adalah, meningkatkan harga diri, menumbuhkan pikiran positif, meningkatkan pemahaman diri, menumbuhkna keakraban dengan orang lain, dan mampu menemukan kelebihan dan kelemahan diri. Dari pernyataan tersebut maksud pengjaran bahasa berorientasi pada pemerolehan nilai nilai sesuai pendidikan karakter yaitu, menumbuhkan pikiran positif dan menumbuhkan keakraban dengan orang lain. BAB III PENUTUP i.Kesimpulan Setelah membaca dan memahami serta menganalisis pengaruh dan keterkaitan bahasa indonesia terhadap pendidikan karakter dapat disimpulakan sebagai berikut: 1. Bahasa indonesia menunjukkan kepada masyarakat terutama orang tua tentang pentingnya pemahaman secara mendalam yang terkandung pada bahasa indonesia, dengan harapan lebih banyak lagi masyarakat yang menggunakan bahasa sebagai salah satu media pembentukan karakter yang baik, dikehidupan sosial pada umumnya. 2.Bahasa indonesia begitu penting di dalam kehidupan bermasyarakat , karena bahasa indonesia sebagai alat untuk berinteraksi antar masyarakat . Walaupun di negara kita mempunyai macam-macam bahasa yang beragam tetapi bahasa yang wajib kita pahami adalah bahasa indonesia. 3. Bahasa indonesia dalam dunia pendidikan berperan penting dilihat dari segi kegunaanya karena di dunia pendidikan bahasa indonesia digunakan dalam kegiatan yang bersifat formal , begitu pun dengan kedudukannya telah kita ketahui bahwa bahasa indonesia dijadikan sebagai bahasa nasional . 4.Penanaman pendidikan karakter melalui bahasa indonesia sebaiknya dimulai dari usia anak anak, sehingga penanaman nilai-nilai yang diberikan sejak anak-anak dinilai lebih maksimal dari pada diberikan pada usia dewasa.Pendidikan berbasis karakter merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan di dunia pendidikan, besar pengaruh penanaman karakter pada anak dianggap sebagai hal pokok. ii.Saran Dari makalah ini, harapan untuk selalu memberikan pendidikan berbasis karakter melalui pengajaran bahasa indonesia agar terus ditingkatkan dan dijadikan suatu rutinitas dalam segala lingkungan pendidikan. Karena terselenggaranya pendidikan di tiga lingkungan sangat memungkinkan penggunaan bahasa indonesia memiliki pengaruh yang besar. Dari cerminan tersebut perlunya pengajaran bahasa indoneisa dan kaitannya dengan pendidikan dinilai mampu memberikan hal positif dalam pembentukan karakter seseorang melalui pendidikan berbasis karakter. Mempelajari dan mengembangkan bahasa indonesia dalam pendidikan sangatlah perlu ditingkatkan, oleh sebab itu kita sebagai pemerhati pendidikan mempunyai peran penting dalam menanamkan nilai nilai positif serta pembentukan karakter seseorang melalaui bahasa yang baik. DAFTAR PUSTAKA Danya Munsyi,Alif. 2005 .Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta : Gramedia. Depdiknas. 2003 .Sistem Pendidikan Nasional. Diakses dari : www.depdiknas.go.id. Djafar,Hamsiah. 2011 . Pembelajaran Bahasa Indonesia. Makassar:Alauddin University Perss. Muslich,Mansur.2007. Perencanaan Bahasa pada Era Globalisasi.Bandung:Bumi Aksara. Sudrajat, Akhmad. 2010. Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar. Diakses dari: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/12/16/ Sudrajat, Akhmad. 2010. Peran Pendidikan Menuju Bangsa Yang Bermartabat. Diakses dari: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/12/16/ Smala, Junianto .2012 . Peran Bahasa Dalam Pendidikan Karakter . Diakses dari : http://smalajunianto.blogspot.com/2012/02/makalah-peran-bahasa-dalam pendidikan.html
Ahwat Tangguh
Doa adalah kekuatan, jangan pernah dilupakan . Allah dekat , menunggumu berdoa dan bersandar kepada-Nya.
Minggu, 04 Januari 2015
Makalah bahasa indonesia
Sabtu, 15 Maret 2014
makalah
Makalah Akidah Ahlak
Perbuatan dan Sifat Tuhan
oleh :
Kelompok 5
Furqan
Kartia
Nanang Hasan
Nurhafidah
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
2013
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum. Wr. Wb
Puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala curahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga kami kelompok 5 mampu menyelasaikan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing kepada kami untuk membuat sebuah makalah dengan judul “Perbuatan dan Sifat Tuhan“.
Shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikut beliau sampai akhir zaman.
Makalah yang kami sajikan sedapat mungkin kami hadirkan dalam bentuk yang mudah dimengerti. Namun demikian, kami menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan penyampaian materi di dalam makalah kami. Karenanya kami menerima kritik dan saran dari berbagai pihak terutama dari ibu selaku dosen pembimbing mata kuliah AKIDAH AHLAK demi kesempurnaan isi dari makalah kami dan menjadi pelajaran dikemudian hari.
SAMATA , Desember 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................1
KATA PENGANTAR ...................................................................................2
DAFTAR ISI………………………………...................................................3
BAB I PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG ..............................................................................5
B. RUMUSAN MASALAH .........................................................................6
C.TUJUAN PENULISAN.............................................................................6
BAB II PEMBAHASAN
1. Perbuatan Tuhan Menurut Beberapa Aliran
A.Aliran Mu’tazilah..........................................................................................7
B. Aliran Asy’ariyah..........................................................................................9
C.Aliran Maturidiyah......................................................................................10
2.Sifat-sifat Allah
a.Sifat wajib Allah........................................................................................11
b.Sifat mustahil Allah...................................................................................11
c.Sifat Jaiz Allah...........................................................................................12
3.Asmaul Husna
a.Menguraikan Asmaul Husna....................................................................12
BAB III PENUTUP
Kesimpulan.....................................................................................................16
Daftar Pustaka................................................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persoalan kalam lain yang menjadi bahan perdebatan di antra aliran-aliran kalam adalah masalah perbuatan Tuhan . Masalah ini muncul sebagai buntut dari perdebatan ulama kalam mengenai iman. Masalah ini kemudian memunculkan aliran kalam fatalis (predestination) yang di wakili oleh Jabariyah dan free will yang di wakili Qadariyah dan Mu’tazilah, sedangkan aliran asy’ariyah dan Maturidiyah mengambil sikap pertengahan. Persoalan ini kemudian meluas lagi dengan mempermasalahkan apakah Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu atau tidak? Apakah perbuatan Tuhan itu tidak terbatas pada hal-hal yang baik-baik saja, tetapi juga mencakup kepada hal-hal yang buruk?
Allah SWT adalah dzat yang maha perkasa, keperkasaan Allah tiada bandingannya, tidak terbatas dan bersifat kekal. Allah SWT menciptakan alam semesta ini untuk kepentigan umat manusia, dalam menciptakan alam Allah tidak pernah meminta bantuan terhadap mahluk lain, oleh karena itu kita sebagai hamba Allah hendaknya selalu memuliakan-Nya, kemampuan Allah dengan cara selalu mentaati seagala apa yang telah diperintahkan-Nya dan juga menjauhi segala sesuatu yang telah di larang-Nya. Kemampuan Allah dalam menciptakan alam beserta isinya merupakan wujud dari sifat wajib Allah dan Asmaul Husna .
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pendapat aliran-aliran mengenai perbuatan Tuhan ?
2. Ada berapakah sifat-sifat Allah ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini agar kita dapat memahami :
1. Mengetahui pendapat beberapa aliran mengenai perbuatan Tuhan.
2. Mengetahui sifat-sifat Allah.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Perbuatan Tuhan Menurut Beberapa Aliran
Semua aliran dalam pemikiran kalam berpandangan bahwa Tuhan melakukan perbuatan. Perbuatan disini dipandang sebagai konsekuensi logis dari dzat yang memiliki kemampuan untuk melakukannya.
A. Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, pendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang di katakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mampu melakukan perbutan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu. Di dalam Al-Qur’an pun jelas dikatakan bahwa Tuhan tidaklah berbuat zalim. Ayat Al-Qur’an yang di jadikan dalil oleh Mu’tazilah untuk medukung pendapatnya di atas adalah surat Al-anbiya ayat 23 dan Surat Ar-Rum ayat 8
Qadi abd Al-jabar seorang tokoh Mu’tazilah mengatakan bahwa ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan maha suci dari perbuatan buruk. Dengan demikian, Tuhan tidak perlu ditanya. Ia menambahkan bahwa seseorang yang di kenal baik, apabila secara nyata berbuat baik, tidak perlu di tanya mengapa ia melakukan perbuatan itu, adapun ayat ke dua, menurut Al-Jabbar, mengandung petunjuk bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Andaikata Tuhan melakukan perbuatan buruk, pernyataan bahwa ia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan hak, tentu tidak benar atau merupakan berita bohong.
Dasar pemikiran tersebut serta konsep tentang keadilan Tuhan yang berjalan sejajar dengan paham adanya batasan-batasan bagi kekuasaan dan kehendak Tuhan, mendorong kelompok Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiban itu dapat di simpulkan dalam suatu hal, yaitu kewajiban tersebut baik bagi manusia. Paham kewajiban Tuhan berbuat baik, bukan yang terbaik (ash-shalah waal-ashshla) mengonsekuensikan aliran Mu’tazilah memuculkan paham kewajiban Allah berikut ini:
a. Kewajiban tidak memberikan beban dari luar kemampuan manusia.
Memberikan beban di luar kemampuan manusia (taklifma la yutaq) adalah bertentangan dengan paham berbuat baik dan terbaik. Hal ini bertentangan dengan paham mereka tentang keadilan Tuhan. Tuhan akan bersifat tidak adil kalau ia memberi beban yang terlalu berat kepada manusia.
b. Kewajiban Mengirimkan Rasul
Bagi aliran Mu’tazilah, dengan kepercayaan bahwa akal dapat mengetahui hal-hal gaib, pengiriman Rasul tidaklah begitu penting. Namun, mereka memasukkan pengiriman rasul kepada umat manusia menjadi salah satu kewajiban Tuhan. Argumentasi mereka adalah kondisi akal yang tidak dapat mengetahui setiap apa yang harus diketahui manusia tentang Tuhan dan alam gaib. Oleh karena itu, Tuhan berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia dengan mengirimkan rasul. Tanpa rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhriat nanti
c. Kewajiban Menempati Janji (al-Wa’d) dan ancaman (al-Wa’d)
Janji dan ancaman merupakan salah satu dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah. Hal ini erat hubungannya dengan dasar keduanya, yaitu keadilan. Tuhan akan bersifat tidak adil jika tidak menepati janji untuk memberi pahalah kepada orang yang berbuat baik, dan menjalankan ancaman bagi orang yang berbuat jahat. Selanjutnya keadaan tidak menepati janji dan tidak menjalankan ancaman berbentangan dengan maslahat dan kepentingan manusia. Oleh karena itu, menepati janji dan menjalankan ancaman wajib bagi Tuhan.
B. Aliran Asy’ariyah
Menurut aliran asy’ariyah, paham kewajiban Tuhan berbuat baik dan terbaik bagi manusia ash-shalah wa al-ashlah), sebagaimana dikatakan aliran Mu’tazilah, tidak dapat di terima karena bertentangan dengan paham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, hal ini di tegaskan al-ghazali ketika mengatakan bahwa Tuhan tidak berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia. Dengan demkian, aliran asy’ariyah tidak menerima paham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap makhluk sebagaimana di katakan al-ghazali, perbuatan-perbuatan Tuhan bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satupun darinya yang mempunyai sifat wajib.
Karena percaya kepada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tak mempunyai kewajiban apa-apa, aliran asy’ariyah menerima paham pemberian beban diluar kemampuan manusia. Al- Asya’ari sendiri, dengan tegas mengatakan dalam al-luma, bahwa Tuhan dapat mengatakan beban yang tak dapat di pikul pada manusia. Al-ghazali pun mengatakan hal itu dalam al-iqtisad.
Walaupun pengiriman rasul mempunyai arti penting dalam teologi, aliran asy’ariyah menolaknya sebagai kewajiban Tuhan. Hal itu bertentangan dengan keyakinan mereka bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap manusia. Paham ini dapat membawa akibat yang tidak baik, sekiranya Tuhan tidak mengutus rasul kepada umat manusia, hidup manusia akan mengalami kekacauan. Tanpa wahyu, manusia tidak dapat membedakan perbuatan baik dari perbuatan buruk. Ia akan berbuat apa saja yang di ketahuinya. Namun, sesuai degan paham asy’ariyah tetang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, hal ini tak menjadi permasalahan bagi teologi mereka. Tuhan berbuat apa saja yang di kehendakinya. Kalau Tuhan menghendaki manusia hidup dalam masyarakat kacau. Tuhan dalam paham aliran ini tidak berbuat untuk kepentingan manusia.
C. Aliran Maturidiyah
Mengenai perbuatan Allah ini, terdapat perbedaan pandangan antara maturidiyah samarkand dan maturidiah bukhara. Aliran maturidiyah samarkand, yang juga memberikan batas pada kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja. Dengan demikian, juga pemikiran rasul dipandang maturidiyah samarkand sebagai kewajiban Tuhan.
Adapun maturidiyah bukhara memiliki pandangan yang sama dengan asy’ariyah mengenai paham bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban namun, sebagaimana di jelaska oleh badzawi, Tuhan pasti menempati janjinya, seperti memberi upah kepada orang yang berbuat baik, walaupun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berbuat dosa besar adapun pandangan muturidiyah bukhara tentang pengiriman rasul, sesuai dengan paham mereka tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin saja.
2.Sifat-Sifat Allah
Perlu kita tegaskan bahwa yang berhak menetapkan sifat-sifat Allah SWT hanyalah Allah sendiri yang tetuang dalam ayat-ayat Al Qur’an . Dari ayat-ayat itu, kita ketahui bagaimana sifat-sifat Allah tersebut. Lebih lanjut , sifat-sifat Allah tersebut terbagi ke dalam sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz maupun asmaul husna (nama-nama Allah yang baik).
a. Sifat wajib Allah
Maksud sifat wajib Allah adalah sifat yang harus ada pada Dzat Allah sebagai kesempurnaan bagi-Nya.Sifat-sifat wajib Allah tidak dapat diserupakan dengan sifat-sifat mahluk-Nya, maka sifat Allah wajib diyakini dengan akal dan berdasraka Al-Quran dan sunnah Rasul.Sifat wajib Allah antar lain yaitu:
a.Wujud ( ada) ,maksudnya adanya Allah bukan karena ada yang menciptakan tetapi karena ada dengan sendirinya.
b.Qidam(Terdahulu) Allah bersifat Qidam maksudnya bahwa Allah terdahulu tanpa didahului oleh sesuatu.
c. Baqa (kekal) Maksudnya Allah itu kekal tidak berubah-ubah sebagaimana mahluk-Nya yang selalu mengalami proses perubahan dan kehancuran.
d.Mukhalafatu lil hawaditsi ( berbeda dengan semua mahluk-Nya) , maksudnya Dzat maupun sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat mahluk-Nya. Kalau sama dengan mahluk , ia dibuat oleh Dzat lain.Hal ini tidaklah mungkin bagi Allah.
e.Qiyamuhu bi nafsihi ( Berdiri sendiri tanpa memerlukan yang lain) maksudnya Allah tidak membutuhkan bantuan apapun dan dari siapa pun . Sebab , kalau Allah membutuhkan yang lain , berarti Dia memiliki sifat lemah , tidak sempurna , sedangkan sifat lemah itu bukan sifat Allah dan hal itu tidak mungkin bagi Allah.
b.Sifat Mustahil Allah
Yang dimaksud sifat mustahil Allah adalah sifat yang tidak mungkin ada pada Allah . Sifat-sifat mustahil ini merupakan kebalikan dari sifat wajib bagi Allah , karena itu jumlahnya sama Sifat-sifat mustahil itu adalah sebagai berikut :
a.Adam ( tidak ada ). Maksudnya, mustahil Allah itu tidak ada.
b.Huduts ( Permulaan). Maksudnya mustahil Allah itu bersifat Baharu sebab baharu pasti akan berakhir.
c.Fana (Rusak) maksudnya , mustahil Allah itu bersifat rusak , sebab Dia yang menciptakan dan memelihara alam yang luas ini.
d.Mumatsalatu lil Hawadits ( meneyerupai yang baru atau mahluk). Maksudnya , mustahil Allah itu serupa dengan mahluk.
e.Ihtiyaju li Ghairihi (Membutuhkan sesuatu selain dirinya). Maksudnya mustahil apabila Allah membutuhkan bantuan orang lain , karena Dia adalah Mahakaya.
c.Sifat Jaiz Allah
Secara bahasa , jaiz berarti boleh . Yang dimaksud denga sifat Jaiz Allah ialah sifat yang boleh ada dan tidak boleh ada dan boleh tidak ada pada Allah. Sifat jaiz ini tidak menuntut pasti ada atau pasti tidak ada . Sifat jaiz Allah adalah Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu artinya memperbuat sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuatnya.Maksudnya Allah itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya .
3.Asmaul Husna
a.Menguraikan Asmaul Husna
Menurut bahasa, asma’ul husna berarti nama-nama yang baik, sedangkan menurut istilah berarti nama-nama baik yang dimiliki Allah sebagai bukti keagungan dan kemuliaan-Nya.Nama-nama itu bukan sekedar nama namun dapat dijadikan jalan untuk bermakrifah kepada Allah dengan cara memahami baik-baik nama-nama itu . Di dalam al-Qur’an nama-nama yang baik dijelaskan pada Qs. Al-A’raf/7: 180 sebagai berikut :
Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf/7: 180)
Nama-nama indah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99 menurut hitungan ulama Sunni, dapat dirangkai secara kronologis begitu indah ibarat seuntai tasbih. Dimulai dengan lafadz al-jalalah, Allah, dengan angka 0 (nol), yang di anggap angka kesempurnaan, disusul dengan al-Rahman, al-Rahim dan seterusnya sampai angka ke 99, al-Sabur. Dan kembali lagi ke angka nol, Allah (al-jalalah), atau kembali lagi ke pembatas besar dalam untaian tasbih, symbol angka nol berupa cyrcle, bermula dan berakhir pada stu titik, atau menurut istilah Al-Qur’an: Inna li Allah wa inna ilaihi raji’un,(kita berasal dari tuhan dan akan kembali kepada-Nya).
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa Asmaul Husna Allah SWT berjumlah 99 nama. Sebagian dari Asmaul Husna tersebut termasuk kedalam sifat wajib Allah, yakni sifat-sifat dan pasti dimiliki Allah SWT. Mengenai jumlah Asmaul Husna Rasulullah SAW bersabda; Artinya:” Sesunnguhnya Allah itu mempunyai Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghafalkannya dengan meyakini akan kebenarannya maka ia masuk syurga, sesungguhnya Allah itu maha ganjil tidak genap dan senang sekali sesuatu yang ganjil. (HR. Ibnu Majah).
Kembali lagi ke pembahasan awal, yakni menguraikan sifat Allah dalam Asmaul Husna (Al Muqsith, An Nafii`, Al Waarist, Ar Raafi`, Al Baasith). Untuk lebih jelasnya saya akan menguraikan sebagai berikut;
1) Al Muqsith (Yang Maha Seimbang).
Allah tidak pernah memberatkan satu pihak dengan pihak yang lain, dan Allah tidak meringankan satu pihak dengan pihak yang lain, kaya dan miskin, kedudukan raja dan budak, semuanya di Anggap sama.
2) An Nafii ( Yang Maha Memberi Manfaat).
Dikatakan bahwa Dialah yang memberi Manfaat, Allah menciptakan apa-apa yang ada di bumi ini untuk memberikan manfaat kepada mahluknya.
3) Al Waarits ( Yang Maha Pewaris).
Dalam kehidupan manusia Allah tidak hanya mewarisi harta, tanah/daerah (QS, Al-Ahzab 33.27) tapi juga Al-Qur’an (Qs. Al-Fatir 35.32) bahkan atas izin-Nya seseorang dapat mewarisi ilmu (An-Naml 27.16) yang penting adalah mewarisi syurga (Qs. Maryam 19.19) .
4) Ar Raafi` (Yang Maha Meninggikan (makhluknya).
Walaupun kita sudah jatuh, Ia dapat membangkitkan kita kembali, walaupun sudah mencapai titik rendah, Ia bisa meninggikan kembali. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk dapat melakukannya.
5) Al Baasith (Yang Maha Melapangkan (makhluknya).
Ketika kita dihadapkan dengan permasalahan hidup seakan-akan hari-hari yang kita hadapi cukup lama, ketika kita mendapatkan musibah seakan-akan kita pesimis untuk dapat melaluinya dan enngan mengikhlaskannya. Tapi ketika kita sadar, Dialah (Allah) yang maha melapangkan segala-galanya, Dalah yang melapangkan jiwa kita, yang membesarkan hati kita dan meningkatkan kesadaran kita. Karena Allah Maha Pengasih lagi penyayang hamba-Nya.
tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan…” (QS. Asy-Syura: 25).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.Semua aliran dalam pemikiran kalam berpandangan bahwa Tuhan melakukan perbuatan. Perbuatan di sini di pandang sebagai konsekuensi logis dari dzat yang memiliki kemampuan untuk melakukannya.Aliran Mu’tazilah sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, pendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang di katakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mampu melakukan perbutan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu. Di dalam Al-Qur’an pun jelas dikatakan bahwa Tuhan tidaklah berbuat zalim. Ayat Al-Qur’an yang di jadikan dalil oleh Mu’tazilah untuk medukung pendapatnya di atas adalah surat Al-anbiya ayat 23
2.Allah memiliki sifat wajib , sifat mustahil , dan sifat jaiz . Adapun 99 nama yang indah atau lebih terkenal dengan sebutan Al-Asma-ul-Husna. Nama-nama tersebut merupakan cerminan dari perilaku Allah terhadap Hambanya. Karena itu, jika nama-nama tersebut kita sebut sebagai suatu permohonan, niscaya akan mempunyai pengaruh yang sangat besar,Anjuran untuk berdoa menggunakan Asmaul Husna telah tercermin dalam firman Allah: “Hanya milik Allah Asma-Ul Husna, maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma-Ul Husna, dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-A’rof Ayat 180).
Dalam Sifat Asmaul Husna-Nya Ia telah menujukan kebesaran-kebesaran yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal, semuanya dapat di kehendaki oleh-Nya karena Allah Maha Kuasa di atas segala-galanya di jagat raya ini, begitu banyak kemurahan dan nikmat yang di berikan kepada hamba-Nya tanpa pandang bulu, Semua Ia berikan, karena Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Maha Pemurah lagi maha Memelihara.Oleh karena itu sebagai hamba Allah yang taat dan patuh senantiasa akan mengamalkan sifat-sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari, serta meneladaninya sebagai wujud kecintaan kita terhadap Allah SWT. Wallahua’lam Bissawab.
DAFTAR PUSTAKA
http://irfansyamd.blogspot.com/2012/05/perbuatan-tuhan-dan-perbuatan-manusia.html
http://abahmarasakti.wordpress.com/2010/01/11/perbandingan-aliran-tentang-dosa-besar-sifat-allah-perbuatan-manusia-dan-keadilan-allah/
Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta : PT. Al Husna Zikra, 1995)
Nasution. Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah, Analisan Perbandingan. UI Press: Jakarta. 1986.
Sayyid Sabiq,Akidah islam:Pola Hidup Manusia Beriman,Diponegoro,Bandung,1978
Anwar Rosihon ,Akidah Akhlak,Pustaka Setia,Bandung,2008.
Langganan:
Postingan (Atom)