Sabtu, 15 Maret 2014

makalah

Makalah Akidah Ahlak Perbuatan dan Sifat Tuhan oleh : Kelompok 5 Furqan Kartia Nanang Hasan Nurhafidah UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN 2013 KATA PENGANTAR Assalamualaikum. Wr. Wb Puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala curahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga kami kelompok 5 mampu menyelasaikan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing kepada kami untuk membuat sebuah makalah dengan judul “Perbuatan dan Sifat Tuhan“. Shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikut beliau sampai akhir zaman. Makalah yang kami sajikan sedapat mungkin kami hadirkan dalam bentuk yang mudah dimengerti. Namun demikian, kami menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan penyampaian materi di dalam makalah kami. Karenanya kami menerima kritik dan saran dari berbagai pihak terutama dari ibu selaku dosen pembimbing mata kuliah AKIDAH AHLAK demi kesempurnaan isi dari makalah kami dan menjadi pelajaran dikemudian hari. SAMATA , Desember 2013 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.......................................................................................1 KATA PENGANTAR ...................................................................................2 DAFTAR ISI………………………………...................................................3 BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG ..............................................................................5 B. RUMUSAN MASALAH .........................................................................6 C.TUJUAN PENULISAN.............................................................................6 BAB II PEMBAHASAN 1. Perbuatan Tuhan Menurut Beberapa Aliran A.Aliran Mu’tazilah..........................................................................................7 B. Aliran Asy’ariyah..........................................................................................9 C.Aliran Maturidiyah......................................................................................10 2.Sifat-sifat Allah a.Sifat wajib Allah........................................................................................11 b.Sifat mustahil Allah...................................................................................11 c.Sifat Jaiz Allah...........................................................................................12 3.Asmaul Husna a.Menguraikan Asmaul Husna....................................................................12 BAB III PENUTUP Kesimpulan.....................................................................................................16 Daftar Pustaka................................................................................................18 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persoalan kalam lain yang menjadi bahan perdebatan di antra aliran-aliran kalam adalah masalah perbuatan Tuhan . Masalah ini muncul sebagai buntut dari perdebatan ulama kalam mengenai iman. Masalah ini kemudian memunculkan aliran kalam fatalis (predestination) yang di wakili oleh Jabariyah dan free will yang di wakili Qadariyah dan Mu’tazilah, sedangkan aliran asy’ariyah dan Maturidiyah mengambil sikap pertengahan. Persoalan ini kemudian meluas lagi dengan mempermasalahkan apakah Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu atau tidak? Apakah perbuatan Tuhan itu tidak terbatas pada hal-hal yang baik-baik saja, tetapi juga mencakup kepada hal-hal yang buruk? Allah SWT adalah dzat yang maha perkasa, keperkasaan Allah tiada bandingannya, tidak terbatas dan bersifat kekal. Allah SWT menciptakan alam semesta ini untuk kepentigan umat manusia, dalam menciptakan alam Allah tidak pernah meminta bantuan terhadap mahluk lain, oleh karena itu kita sebagai hamba Allah hendaknya selalu memuliakan-Nya, kemampuan Allah dengan cara selalu mentaati seagala apa yang telah diperintahkan-Nya dan juga menjauhi segala sesuatu yang telah di larang-Nya. Kemampuan Allah dalam menciptakan alam beserta isinya merupakan wujud dari sifat wajib Allah dan Asmaul Husna . B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah pendapat aliran-aliran mengenai perbuatan Tuhan ? 2. Ada berapakah sifat-sifat Allah ? C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan ini agar kita dapat memahami : 1. Mengetahui pendapat beberapa aliran mengenai perbuatan Tuhan. 2. Mengetahui sifat-sifat Allah. BAB II PEMBAHASAN 1. Perbuatan Tuhan Menurut Beberapa Aliran Semua aliran dalam pemikiran kalam berpandangan bahwa Tuhan melakukan perbuatan. Perbuatan disini dipandang sebagai konsekuensi logis dari dzat yang memiliki kemampuan untuk melakukannya. A. Aliran Mu’tazilah Aliran Mu’tazilah sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, pendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang di katakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mampu melakukan perbutan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu. Di dalam Al-Qur’an pun jelas dikatakan bahwa Tuhan tidaklah berbuat zalim. Ayat Al-Qur’an yang di jadikan dalil oleh Mu’tazilah untuk medukung pendapatnya di atas adalah surat Al-anbiya ayat 23 dan Surat Ar-Rum ayat 8 Qadi abd Al-jabar seorang tokoh Mu’tazilah mengatakan bahwa ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan maha suci dari perbuatan buruk. Dengan demikian, Tuhan tidak perlu ditanya. Ia menambahkan bahwa seseorang yang di kenal baik, apabila secara nyata berbuat baik, tidak perlu di tanya mengapa ia melakukan perbuatan itu, adapun ayat ke dua, menurut Al-Jabbar, mengandung petunjuk bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Andaikata Tuhan melakukan perbuatan buruk, pernyataan bahwa ia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan hak, tentu tidak benar atau merupakan berita bohong. Dasar pemikiran tersebut serta konsep tentang keadilan Tuhan yang berjalan sejajar dengan paham adanya batasan-batasan bagi kekuasaan dan kehendak Tuhan, mendorong kelompok Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiban itu dapat di simpulkan dalam suatu hal, yaitu kewajiban tersebut baik bagi manusia. Paham kewajiban Tuhan berbuat baik, bukan yang terbaik (ash-shalah waal-ashshla) mengonsekuensikan aliran Mu’tazilah memuculkan paham kewajiban Allah berikut ini: a. Kewajiban tidak memberikan beban dari luar kemampuan manusia. Memberikan beban di luar kemampuan manusia (taklifma la yutaq) adalah bertentangan dengan paham berbuat baik dan terbaik. Hal ini bertentangan dengan paham mereka tentang keadilan Tuhan. Tuhan akan bersifat tidak adil kalau ia memberi beban yang terlalu berat kepada manusia. b. Kewajiban Mengirimkan Rasul Bagi aliran Mu’tazilah, dengan kepercayaan bahwa akal dapat mengetahui hal-hal gaib, pengiriman Rasul tidaklah begitu penting. Namun, mereka memasukkan pengiriman rasul kepada umat manusia menjadi salah satu kewajiban Tuhan. Argumentasi mereka adalah kondisi akal yang tidak dapat mengetahui setiap apa yang harus diketahui manusia tentang Tuhan dan alam gaib. Oleh karena itu, Tuhan berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia dengan mengirimkan rasul. Tanpa rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhriat nanti c. Kewajiban Menempati Janji (al-Wa’d) dan ancaman (al-Wa’d) Janji dan ancaman merupakan salah satu dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah. Hal ini erat hubungannya dengan dasar keduanya, yaitu keadilan. Tuhan akan bersifat tidak adil jika tidak menepati janji untuk memberi pahalah kepada orang yang berbuat baik, dan menjalankan ancaman bagi orang yang berbuat jahat. Selanjutnya keadaan tidak menepati janji dan tidak menjalankan ancaman berbentangan dengan maslahat dan kepentingan manusia. Oleh karena itu, menepati janji dan menjalankan ancaman wajib bagi Tuhan. B. Aliran Asy’ariyah Menurut aliran asy’ariyah, paham kewajiban Tuhan berbuat baik dan terbaik bagi manusia ash-shalah wa al-ashlah), sebagaimana dikatakan aliran Mu’tazilah, tidak dapat di terima karena bertentangan dengan paham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, hal ini di tegaskan al-ghazali ketika mengatakan bahwa Tuhan tidak berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia. Dengan demkian, aliran asy’ariyah tidak menerima paham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap makhluk sebagaimana di katakan al-ghazali, perbuatan-perbuatan Tuhan bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satupun darinya yang mempunyai sifat wajib. Karena percaya kepada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tak mempunyai kewajiban apa-apa, aliran asy’ariyah menerima paham pemberian beban diluar kemampuan manusia. Al- Asya’ari sendiri, dengan tegas mengatakan dalam al-luma, bahwa Tuhan dapat mengatakan beban yang tak dapat di pikul pada manusia. Al-ghazali pun mengatakan hal itu dalam al-iqtisad. Walaupun pengiriman rasul mempunyai arti penting dalam teologi, aliran asy’ariyah menolaknya sebagai kewajiban Tuhan. Hal itu bertentangan dengan keyakinan mereka bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap manusia. Paham ini dapat membawa akibat yang tidak baik, sekiranya Tuhan tidak mengutus rasul kepada umat manusia, hidup manusia akan mengalami kekacauan. Tanpa wahyu, manusia tidak dapat membedakan perbuatan baik dari perbuatan buruk. Ia akan berbuat apa saja yang di ketahuinya. Namun, sesuai degan paham asy’ariyah tetang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, hal ini tak menjadi permasalahan bagi teologi mereka. Tuhan berbuat apa saja yang di kehendakinya. Kalau Tuhan menghendaki manusia hidup dalam masyarakat kacau. Tuhan dalam paham aliran ini tidak berbuat untuk kepentingan manusia. C. Aliran Maturidiyah Mengenai perbuatan Allah ini, terdapat perbedaan pandangan antara maturidiyah samarkand dan maturidiah bukhara. Aliran maturidiyah samarkand, yang juga memberikan batas pada kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja. Dengan demikian, juga pemikiran rasul dipandang maturidiyah samarkand sebagai kewajiban Tuhan. Adapun maturidiyah bukhara memiliki pandangan yang sama dengan asy’ariyah mengenai paham bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban namun, sebagaimana di jelaska oleh badzawi, Tuhan pasti menempati janjinya, seperti memberi upah kepada orang yang berbuat baik, walaupun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berbuat dosa besar adapun pandangan muturidiyah bukhara tentang pengiriman rasul, sesuai dengan paham mereka tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin saja. 2.Sifat-Sifat Allah Perlu kita tegaskan bahwa yang berhak menetapkan sifat-sifat Allah SWT hanyalah Allah sendiri yang tetuang dalam ayat-ayat Al Qur’an . Dari ayat-ayat itu, kita ketahui bagaimana sifat-sifat Allah tersebut. Lebih lanjut , sifat-sifat Allah tersebut terbagi ke dalam sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz maupun asmaul husna (nama-nama Allah yang baik). a. Sifat wajib Allah Maksud sifat wajib Allah adalah sifat yang harus ada pada Dzat Allah sebagai kesempurnaan bagi-Nya.Sifat-sifat wajib Allah tidak dapat diserupakan dengan sifat-sifat mahluk-Nya, maka sifat Allah wajib diyakini dengan akal dan berdasraka Al-Quran dan sunnah Rasul.Sifat wajib Allah antar lain yaitu: a.Wujud ( ada) ,maksudnya adanya Allah bukan karena ada yang menciptakan tetapi karena ada dengan sendirinya. b.Qidam(Terdahulu) Allah bersifat Qidam maksudnya bahwa Allah terdahulu tanpa didahului oleh sesuatu. c. Baqa (kekal) Maksudnya Allah itu kekal tidak berubah-ubah sebagaimana mahluk-Nya yang selalu mengalami proses perubahan dan kehancuran. d.Mukhalafatu lil hawaditsi ( berbeda dengan semua mahluk-Nya) , maksudnya Dzat maupun sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat mahluk-Nya. Kalau sama dengan mahluk , ia dibuat oleh Dzat lain.Hal ini tidaklah mungkin bagi Allah. e.Qiyamuhu bi nafsihi ( Berdiri sendiri tanpa memerlukan yang lain) maksudnya Allah tidak membutuhkan bantuan apapun dan dari siapa pun . Sebab , kalau Allah membutuhkan yang lain , berarti Dia memiliki sifat lemah , tidak sempurna , sedangkan sifat lemah itu bukan sifat Allah dan hal itu tidak mungkin bagi Allah. b.Sifat Mustahil Allah Yang dimaksud sifat mustahil Allah adalah sifat yang tidak mungkin ada pada Allah . Sifat-sifat mustahil ini merupakan kebalikan dari sifat wajib bagi Allah , karena itu jumlahnya sama Sifat-sifat mustahil itu adalah sebagai berikut : a.Adam ( tidak ada ). Maksudnya, mustahil Allah itu tidak ada. b.Huduts ( Permulaan). Maksudnya mustahil Allah itu bersifat Baharu sebab baharu pasti akan berakhir. c.Fana (Rusak) maksudnya , mustahil Allah itu bersifat rusak , sebab Dia yang menciptakan dan memelihara alam yang luas ini. d.Mumatsalatu lil Hawadits ( meneyerupai yang baru atau mahluk). Maksudnya , mustahil Allah itu serupa dengan mahluk. e.Ihtiyaju li Ghairihi (Membutuhkan sesuatu selain dirinya). Maksudnya mustahil apabila Allah membutuhkan bantuan orang lain , karena Dia adalah Mahakaya. c.Sifat Jaiz Allah Secara bahasa , jaiz berarti boleh . Yang dimaksud denga sifat Jaiz Allah ialah sifat yang boleh ada dan tidak boleh ada dan boleh tidak ada pada Allah. Sifat jaiz ini tidak menuntut pasti ada atau pasti tidak ada . Sifat jaiz Allah adalah Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu artinya memperbuat sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuatnya.Maksudnya Allah itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya . 3.Asmaul Husna a.Menguraikan Asmaul Husna Menurut bahasa, asma’ul husna berarti nama-nama yang baik, sedangkan menurut istilah berarti nama-nama baik yang dimiliki Allah sebagai bukti keagungan dan kemuliaan-Nya.Nama-nama itu bukan sekedar nama namun dapat dijadikan jalan untuk bermakrifah kepada Allah dengan cara memahami baik-baik nama-nama itu . Di dalam al-Qur’an nama-nama yang baik dijelaskan pada Qs. Al-A’raf/7: 180 sebagai berikut : Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf/7: 180) Nama-nama indah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99 menurut hitungan ulama Sunni, dapat dirangkai secara kronologis begitu indah ibarat seuntai tasbih. Dimulai dengan lafadz al-jalalah, Allah, dengan angka 0 (nol), yang di anggap angka kesempurnaan, disusul dengan al-Rahman, al-Rahim dan seterusnya sampai angka ke 99, al-Sabur. Dan kembali lagi ke angka nol, Allah (al-jalalah), atau kembali lagi ke pembatas besar dalam untaian tasbih, symbol angka nol berupa cyrcle, bermula dan berakhir pada stu titik, atau menurut istilah Al-Qur’an: Inna li Allah wa inna ilaihi raji’un,(kita berasal dari tuhan dan akan kembali kepada-Nya). Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa Asmaul Husna Allah SWT berjumlah 99 nama. Sebagian dari Asmaul Husna tersebut termasuk kedalam sifat wajib Allah, yakni sifat-sifat dan pasti dimiliki Allah SWT. Mengenai jumlah Asmaul Husna Rasulullah SAW bersabda; Artinya:” Sesunnguhnya Allah itu mempunyai Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghafalkannya dengan meyakini akan kebenarannya maka ia masuk syurga, sesungguhnya Allah itu maha ganjil tidak genap dan senang sekali sesuatu yang ganjil. (HR. Ibnu Majah). Kembali lagi ke pembahasan awal, yakni menguraikan sifat Allah dalam Asmaul Husna (Al Muqsith, An Nafii`, Al Waarist, Ar Raafi`, Al Baasith). Untuk lebih jelasnya saya akan menguraikan sebagai berikut; 1) Al Muqsith (Yang Maha Seimbang). Allah tidak pernah memberatkan satu pihak dengan pihak yang lain, dan Allah tidak meringankan satu pihak dengan pihak yang lain, kaya dan miskin, kedudukan raja dan budak, semuanya di Anggap sama. 2) An Nafii ( Yang Maha Memberi Manfaat). Dikatakan bahwa Dialah yang memberi Manfaat, Allah menciptakan apa-apa yang ada di bumi ini untuk memberikan manfaat kepada mahluknya. 3) Al Waarits ( Yang Maha Pewaris). Dalam kehidupan manusia Allah tidak hanya mewarisi harta, tanah/daerah (QS, Al-Ahzab 33.27) tapi juga Al-Qur’an (Qs. Al-Fatir 35.32) bahkan atas izin-Nya seseorang dapat mewarisi ilmu (An-Naml 27.16) yang penting adalah mewarisi syurga (Qs. Maryam 19.19) . 4) Ar Raafi` (Yang Maha Meninggikan (makhluknya). Walaupun kita sudah jatuh, Ia dapat membangkitkan kita kembali, walaupun sudah mencapai titik rendah, Ia bisa meninggikan kembali. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk dapat melakukannya. 5) Al Baasith (Yang Maha Melapangkan (makhluknya). Ketika kita dihadapkan dengan permasalahan hidup seakan-akan hari-hari yang kita hadapi cukup lama, ketika kita mendapatkan musibah seakan-akan kita pesimis untuk dapat melaluinya dan enngan mengikhlaskannya. Tapi ketika kita sadar, Dialah (Allah) yang maha melapangkan segala-galanya, Dalah yang melapangkan jiwa kita, yang membesarkan hati kita dan meningkatkan kesadaran kita. Karena Allah Maha Pengasih lagi penyayang hamba-Nya. tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan…” (QS. Asy-Syura: 25). BAB III PENUTUP Kesimpulan 1.Semua aliran dalam pemikiran kalam berpandangan bahwa Tuhan melakukan perbuatan. Perbuatan di sini di pandang sebagai konsekuensi logis dari dzat yang memiliki kemampuan untuk melakukannya.Aliran Mu’tazilah sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, pendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang di katakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mampu melakukan perbutan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu. Di dalam Al-Qur’an pun jelas dikatakan bahwa Tuhan tidaklah berbuat zalim. Ayat Al-Qur’an yang di jadikan dalil oleh Mu’tazilah untuk medukung pendapatnya di atas adalah surat Al-anbiya ayat 23 2.Allah memiliki sifat wajib , sifat mustahil , dan sifat jaiz . Adapun 99 nama yang indah atau lebih terkenal dengan sebutan Al-Asma-ul-Husna. Nama-nama tersebut merupakan cerminan dari perilaku Allah terhadap Hambanya. Karena itu, jika nama-nama tersebut kita sebut sebagai suatu permohonan, niscaya akan mempunyai pengaruh yang sangat besar,Anjuran untuk berdoa menggunakan Asmaul Husna telah tercermin dalam firman Allah: “Hanya milik Allah Asma-Ul Husna, maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma-Ul Husna, dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-A’rof Ayat 180). Dalam Sifat Asmaul Husna-Nya Ia telah menujukan kebesaran-kebesaran yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal, semuanya dapat di kehendaki oleh-Nya karena Allah Maha Kuasa di atas segala-galanya di jagat raya ini, begitu banyak kemurahan dan nikmat yang di berikan kepada hamba-Nya tanpa pandang bulu, Semua Ia berikan, karena Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Maha Pemurah lagi maha Memelihara.Oleh karena itu sebagai hamba Allah yang taat dan patuh senantiasa akan mengamalkan sifat-sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari, serta meneladaninya sebagai wujud kecintaan kita terhadap Allah SWT. Wallahua’lam Bissawab. DAFTAR PUSTAKA http://irfansyamd.blogspot.com/2012/05/perbuatan-tuhan-dan-perbuatan-manusia.html http://abahmarasakti.wordpress.com/2010/01/11/perbandingan-aliran-tentang-dosa-besar-sifat-allah-perbuatan-manusia-dan-keadilan-allah/ Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta : PT. Al Husna Zikra, 1995) Nasution. Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah, Analisan Perbandingan. UI Press: Jakarta. 1986. Sayyid Sabiq,Akidah islam:Pola Hidup Manusia Beriman,Diponegoro,Bandung,1978 Anwar Rosihon ,Akidah Akhlak,Pustaka Setia,Bandung,2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar